Kandidat Berebut Swing Voters DKI Jakarta

Jakarta – Tiga kandidat pasangan calon gubernur DKI Jakarta kini memiliki posisi elektabilitas yang nyaris sama pascmencuatnya kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ketiga pasangan, Agus Harimurti-Sylviana Murni, Ahok-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, sudah memiliki calon pemilih sendiri. Dari 7,1 juta pemilih Jakarta, sekitar 35% atau 2,4 juta merupakan pemilih yang masih ragu-ragu dan belum menentukan pilihannya ( swing voters ). Sementara itu, dari pengalaman Pilpres 2014 dan Pilgub 2012 para pemilih Jakarta memiliki karakterisasi rasional, independen, dan cair. Jumlah kelas menengah yang punya kesadaran politik jauh lebih besar dibanding di wilayah-wilayah lain. Dua kombinasi itu, ditambah suasana batin ketidakpercayaan terhadap partai politik, Jakarta memiliki jumlah swing voters yang paling tinggi di atas rata-rata nasional. Juru bicara tim pemenangan pasangan Agus-Sylvi, Imelda Sari mengatakan, hasil survei belakangan ini menunjukkan bahwa pemilih pemula dan perempuan merupakan pemilih utama pasangan nomor urut satu ini. Namun, pihaknya mengaku hingga kini belum dapat melihat swing voters berasal dari golongan umur atau kelompok mana. “Pangsa pemilih Agus-Sylvi memang pemilih perempuan dan pemula. Kami melihat swing voters itu cenderung menunggu. Untuk menggaet swing voters atau undecided voter s kami mengintensifkan pertemuan dengan masyarakat di 267 kelurahan yang ada di Jakarta,” ujar Imelda, Senin (5/5). Sebanyak mungkin pertemuan atau kontak langsung dilakukan agar program Agus-Sylvi sampai di masyarakat. Tim pemenangan dibantu para relawan berupaya menyosialisasikan program Agus-Sylvi hingga ke pelosok RT. Cara itu dinilai Imelda cukup efektif menggaet calon pemilih. “Sebab, popularitas saja tidak cukup, tapi bagaimana elektabilitas itu bisa dikonversi di bilik suara nanti yang lebih penting,” katanya. Sedangkan Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Prasetio Edi Marsudi mengaku sudah mengantongi strategi untuk meraih suara swing voters . Meski terjerat kasus hukum, Ahok masih berpeluang meraih dukungan karena karakterisasi pemilih Jakarta lebih banyak yang rasional ketimbang primordial. Hasil survei yang menunjukkan suara swing voters di DKI Jakarta cukup tinggi juga dijadikan peluang pasangan nomor urut dua tersebut untuk meraup dukungan suara, kendati Edi menyatakan, hasil survei tidak selalu benar. Menurutnya, hasil survei bukan satu-satunya patokan. “Hanya untuk perkiraan atau bayangan,” katanya. Pada Pilgub DKI 2012, kandidat Jokowi-Ahok yang diusung partai di mana Edi berlabuh, PDI-P, mengalahkan hasil survei. Hal tersebut yang meyakinkannya bahwa Ahok-Djarot yang sudah populer dan terlihat hasil kerjanya tidak akan terpengaruh oleh hasil survei. “Kami masih konsolidasi bekerja dan Jakarta sudah punya pilihan Ahok, Anies, Agus, jadi kami di 2012, Jokowi-Basuki pernah mengalahkan survei. Saya percaya dengan hati masyarakat mau ke mana,” kata Edi di Rumah Lembang, Senin (5/11). Keyakinan tim pemenangan Ahok-Djarot juga dilandasi kenyataan bahwa petahana saat ini sudah membuktikan perbaikan Jakarta. Dengan demikian swing voters pun melihat dan merasakan hasil kebijakan Ahok-Djarot. Debat publik, salah satu tahapan kampanye, disebutkannya sangat berpengaruh terhadap penjaringan swing voters . Dalam debat itulah, apa yang sudah dan akan dilakukan Ahok-Djarot dibeberkan dengan bukti. “Sekarang Jakarta sudah ada pembangunan yang sangat luar biasa, kalau ini tidak diteruskan kasihan masyarakat Jakarta,” katanya Sementara tim pemenangan Anies-Sandi akan menggunakan pendekatan khusus untuk menggaet swing voters yang jumlahnya saat ini masih sangat tinggi. Dengan hasil survei beberapa waktu terakhir yang menyebutkan tidak ada pasangan calon yang memiliki elektabilitas dominan serta angka suara mengambang yang masih di atas 30% maka pasangan yang berhasil menggaet swing voters akan memenangi ajang pesta demokrasi lima tahunan itu. Menurut Wakil Ketua Tim Media Anies-Sandi, Naufal Firman Yursak, timnya memiliki strategi khusus untuk melakukan pendekatan dan menarik suara swing voters . “Kami selalu mengomunikasikan gagasan perubahan Anies-Sandi melalui berbagai saluran, baik dengan model blusukan langsung, melalui media sosial maupun media massa, serta melakukan pendekatan melalui public figure dan tokoh masyarakat,” ujar Naufal, Senin (5/12). Ia meyakini dengan gagasan perubahan yang paling rasional, maka swing voters di Jakarta akan memilih Anies-Sandi saat hari pencoblosan pada 15 Februari 2017 mendatang. “Soal kondisi kebatinan masyarakat yang menjauhi partai, sangat relatif dan tidak seperti yang sekarang digembar-gemborkan bahwa masyarakat Jakarta antipartai. Publik mungkin anti terhadap parpol tertentu,” lanjut Naufal. Sejak awal, gagasan Anies-Sandi memang bukan semata perubahan fisik pembangunan Jakarta, tetapi juga perubahan mental dan perilaku masyarakat serta aparat birokrasinya. “Masyarakat tidak cukup diberikan pembangunan fisik atau bantuan materiil saja, tetapi juga harus dibuat bahagia mental dan spiritualnya. Makanya kita ingin Jakarta maju kotanya, seiring dengan warganya yang bahagia,” jelasnya. Anies-Sandi berjanji, ke depan tidak akan ada lagi penggusuran yang membuat warga menangis. Tidak boleh ada lagi kesewenang-wenangan terhadap rakyat kecil, dan pemerintah DKI Jakarta akan terus membangun tanpa menyakiti warganya. “Program prioritas Anies-Sandi juga sudah sangat jelas, yakni meningkatkan pendidikan warga karena dengan pendidikanlah kualitas hidup akan jadi lebih baik, menciptakan sedikitnya 200.000 lapangan kerja atau wirausaha baru agar kemampuan ekonomi warga bisa jauh meningkat, serta memastikan semua harga kebutuhan pokok terjangkau bagi masyarakat menengah bawah,” katanya. Deti Mega Purnamasari/Carlos Roy Fajarta/Hotman Siregar/DAS Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu