Jatuh Bangun Bisnis General Motors di Indonesia

Rimanews – Ketika membuka kembali fasilitas pabriknya di Indonesia delapan tahun lalu, General Motors (GM) dipenuhi keyakinan bisa merebut pangsa pasar Indonesia yang sedemikian menggiurkan. Nyatanya, mimpi GM pupus dan kini harus menutup lagi pabriknya di Indonesia. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia hingga 240 juta orang, Indonesia merupakan salah satu pangsa pasar negara berkembang yang sangat menggiurkan. Apalagi kelas menengahnya tumbuh secara cepat, yang sudah pasti diikuti oleh peningkatan penjualan otomotifnya. Baca Juga Fitch Rating tingkatkan rating kredit Indonesia DPR: tak ada kemiripian uang rupiah baru dengan yuan Pelabuhan di bawah Pelindo I siap hadapi natal Berbekal fakta-fakta yang menggiurkan tersebut, GM memutuskan membuka kembali pabriknya yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 2007. Produsen otomotif asal Amerika Serikat (AS) itu sebelumnya membuka pabrik di Bekasi pada tahun 1995. Satu dekade kemudian, pabrik tersebut ditutup karena GM kalah bersaing dengan merek-merek asal Jepang. Dua tahun kemudian, GM membuka lagi pabriknya dengan fokus memroduksi Chevrolet Spin untuk mengimbangi kompetitor Jepang. Sayangnya, Spin tidak bisa mengatasi kedigdayaan Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang merajai Indonesia. Apalagi kemudian Suzuki juga mengeluarkan Ertiga untuk kelas MPV, yang membuat pasar Spin semakin terdesak. GM akhirnya memutuskan untuk menutup pabriknya di Bekasi terhitung mulai Juni 2015. Sebanyak 500 karyawan bakal terkena PHK. GM tetap beroperasi di Indonesia, tetapi hanya menjalankan unit penjualan. GM juga mengalihkan fokusnya untuk penjualan sport utility vehicle (SUV) seperti Captiva dan Trailblazer. Kepala GM Indonesia Michael Dunne akan segera meninggalkan posisinya dan digantikan oleh Pranav Bhatt, yang merupakan chief financial officer GM Indonesia. GM Executive Vice President Stefan Jacobby mengakui GM telah salah karena berhadapan langsung dengan produsen Jepang di pasar yang jelas-jelas lebih dikuasai oleh sesama negara Asia. GM mencoba untuk menandingi produsen asal Jepang dengan secara lokal memroduksi Chevrolet Spin. Mobil kecil tersebut sebelumnya telah terbukti menjadi pemenang di pasar negara berkembang Brasil, tetapi ternyata terlalu mahal dan tidak menguntungkan diproduksi di Indonesia karena segala bagian kendaraan harus diimpor. “Kita tidak dapat meningkatkan produksi untuk mendorong volume seperti yang kita harapkan… meski produknya cukup bagus,” kata Jacoby, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (27/2/2015). Penutupan pabrik di Indonesia tersebut merupakan bagian dari rencana restrukturisasi GM di pasar negara berkembang. Tak hanya GM, sejumlah produsen otomotif pun memikirkan ulang investasinya di pasar negara berkembang yang semula akan dijadikan sebagai mesin pertumbuhan. Sebelumnya, sejumlah produsen otomotof global menggelontorkan miliaran dolar uangnya ke Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan sejumlah pasar negara berkembang termasuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, pasar negara berkembang ternyata tidak memberikan dorongan signifikan pada angka penjualan dan juga laba. Ford Motor, GM, Toyota Motor Corp, Hyundai Motor Co, dan Kia Motors Corp mengatakan, anjloknya penjualan di Brasil, Rusia, India dan sejumlah pasar negara berkembang telah menggerus laba mereka tahun lalu. Meski masih optimistis terhadap pasar negara berkembang, tetapi restrukturisasi adalah sebuah keharusan. Itulah yang kini dilakukan GM, melakukan restrukturisasi bisnis di Indonesia dengan harapan mampu meraup laba di tengah pasar yang sangat menggiurkan ini. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : General Motors Indonesia , bisnis , Ekonomi

Sumber: RimaNews