Ekspor DIY ke Kawasan ASEAN Anjlok 33,46%

YOGYAKARTA – Nilai ekspor barang asal DI Yogyakarta ( DIY ) yang dikirim melalui beberapa pelabuhan di Indonesia ke Negara-negara ASEAN pada September 2016 mengalami penurunan drastis. Menurunnya serapan pasar internasional untuk komoditas tertentu memang menjadi penyebab anjloknya nilai ekspor yang dilakukan pengusaha di wilayah ini. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristiyanto mengatakan, nilai ekspor barang asal DIY ke kawasan ASEAN sebesar USD862.041 atau turun dibanding Agustus. Pihaknya mencatat penurunan yang terjadi selama Agustus ke September hingga 33,46%. “Kali ini pasar ASEAN mengalami penurunan,” ucapnya, Selasa (22/11/2016). Tiga negara utama tujuan ekspor di kawasan ASEAN adalah Singapura, Vietnam, dan Thailand. Pasar Singapura masih menjadi idola tujuan ekspor dari DIY, karena mampu memberi kontribusi ekspor sekitar 70,58%. Negara lain yang cukup banyak menyerap hasil dari DIY adalah Vietnam sebesar 14,17% dan Negara Thailand sebanyak 6,88%. Bambang menyebutkan, tiga kelompok komoditas dengan nilai ekpor tertinggi pada September adalah pakaian jadi bukan rajutan (HS 62), perabot, penerangan rumah (HS 94), dan Barang-barang dari kulit (HS 42). Pakaian bukan rajutan mengambil porsi ekspor sebesar 34,09%. Sementara perabot, penerangan rumah berkontribusi sebesar 11,45% dan barang-barang dari kulit sebanyak 10,35%. Selain nilai ekspor ke ASEAN yang menurun drastis, BPS juga mencatat secara umum ekspor DIY juga terkoreksi. Pihaknya mencatat ekspor DIY ke sejumlah negara di dunia nilainya sebesar USD23.850.424, atau turun sebesar 6,20% dibanding bulan sebelumnya senilai USD25.426.097. “Dibandingkan setahun lalu nilai ekspor DIY secara kumulatif Januari-September juga turun sebesar 4,60%,” ungkapnya. Tiga negara utama tujuan ekspor barang pada September 2016 adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Amerika Serikat masih mendominasi ekspor dari DIY 34,70%. Nilai ekspor terbesar kedua dari DIY adalah Jerman sebesar 14,40% disusul ekspor ke Jepang sebesar 6,71%. Menurutnya, perkembangan nilai ekspor terbesar September 2016 terhadap Agustus 2016 sebesar 105,35% yaitu ekspor ke Belgia. Sementara perkembangan terbesar kumulatif Januari-September 2016 terhadap Januari-September 2015 ke India yang tumbuh signifikan. “Ekspor ke India mengalami peningkatan sebesar 85,04%,” ujarnya. Pihaknya mencatat, perkembangan komoditas terbesar dari Agustus 2016 ke September 2016 adalah komoditas barang-barang rajutan (HS 61). Ekspor jenis ini meningkat 31,93% lebih banyak dibanding komoditas lain. Selain itu, perkembangan terbesar dari Januari-September 2015 ke Januari-September 2016 adalah komoditas kertas/karton (HS 48) dengan peningkatan sebesar 189,29%. Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (Himki) DIY Timbul Raharjo mengatakan, kondisi pasar di ASEAN memang tak jauh beda dengan di dalam negeri. Saat ini sedang mengalami perlambatan, sehingga wajar jika ekspor ke wilayah ini fluktuasi. “September turun karena faktor eksternal,” ucapnya. Selama ini Yogyakarta masih bergantung pada komoditas tekstil serta mebel untuk ekspor ke luar negeri. Sektor lain masih kecil memberikan kontribusinya karena sumber daya yang ada di sektor lain juga belum begitu besar. Sejak lama kontribusi terbesar yaitu tekstil disusul mebel dan kerajinan. ( izz ) dibaca 3.568x

Sumber: Sindonews