Keluarga Menkeu Sri Mulyani di Tengah Terpaan Kasus Century Anak Dapat PR Menjawab Pertanyaan Dana R

Angka Jitu Hongkong Nama Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani belakangan ini sering dipojokkan dalam skandal Bank Century. Bahkan, tak sedikit yang menuntut dirinya mundur. Bagaimana reaksi suami dan tiga anaknya atas gonjang-ganjing kasus tersebut” —————————- — Ahmad Baidhowi, Jakarta —————————— – Minggu (13/12), tidak seperti biasanya, aula di lantai Mezzanine Gedung Djuanda, Departemen Keuangan, terlihat sangat ramai. Sebab, siang itu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati sedang punya “gawe”, menggelar konferensi pers dadakan. Kalau sampai jumpa pers itu dilangsungkan pas hari libur, tentu saja agendanya sangat penting. Memang, dalam konferensi pers tersebut, Ani (sapaan akrab Sri Mulyani) merasa perlu membantah keras tuduhan anggota Pansus Hak Angket Century Bambang Soesatyo. Sebagaimana dilansir di media, Bambang menyebut Ani berbicara dengan Robert Tantular, mantan pemilik Bank Century, pada 21 November 2008. Setelah konferensi pers, lebih dari 50 wartawan masih berupaya mengejar dan mengerumuni Ani. Di pintu depan aula, seorang pria berambut putih dengan baju batik warna cokelat tampak memandangi kerumunan wartawan yang terus merubung Ani. Senyum simpul menghiasi wajahnya. Pria itu adalah Tonny Sumartono, suami Ani. Saat dihampiri Jawa Pos, Tonny menyambut ramah. “Gimana kabarnya Mas, lagi nggak enak badan ya” Kok pakai jaket?” tanya dia kepada Jawa Pos. “Enggak Pak, tadi agak dingin di dalam ruangan. Oh ya, sudah sehat, Pak?” tanya Jawa Pos. Mendapat pertanyaan itu, pria yang saat ini menjabat advisor Yayasan Dharma Bhakti Astra itu malah tersenyum. “Alhamdulillah, saya sehat kok,” jawabnya lantas tersenyum. Tampaknya, Tonny terlihat agak kurang sreg ketika Jawa Pos menanyakan kondisi kesehatannya. Sebab, dia merasa baik-baik saja alias tidak sakit. Tonny mengakui, ketika kasus Century sedang panas-panasnya, berbagai isu sempat beredar di masyarakat. Salah satunya, sempat tersiar kabar bahwa dirinya disebut masuk rumah sakit karena stroke gara-gara memikirkan nasib sang istri yang tengah dirundung masalah. Soal itu, Tonny langsung mengklarifikasi. Dia menegaskan, ketika kasus Century sedang panas-panasnya, istrinya memang sempat kurang enak badan. Kebetulan, saat itu sedang tidak ada sopir. Karena itu, Tonny mengantar istrinya ke rumah sakit. “Gara-gara itu, ada kabar Menkeu masuk rumah sakit. Tapi, keesokannya, Bu Ani masih ngantor dan datang ke beberapa acara. Akhirnya, muncullah isu baru, ooo… berarti suaminya yang sakit, stroke,” ungkapnya lantas tertawa. Tentu saja isu tersebut tidak benar. “Ya… alhamdulillah saya masih sehat,” lanjut dia. Meski demikian, Tonny mengakui kesehatan istrinya memang sempat drop, terutama akhir November hingga awal Desember lalu. “Itu parah-parahnya. Suaranya sampai hilang,” ujarnya. Menurut pria yang menjadi teman diskusi Ani sejak kuliah di Universitas Indonesia (UI) tersebut, kesehatan istrinya makin drop setelah nekat menjalani puasa tiga hari menjelang Hari Raya Idul Adha, 27 November lalu. “Kebetulan, ustadnya menyarankan, karena lagi banyak cobaan, harus lebih bisa sabar. Caranya dengan puasa. Jadi, meski kurang sehat, dia tetap puasa. Padahal, agenda kerjanya sangat padat dan dia tidak mau istirahat. Karakter Bu Ani memang seperti itu. Kalau yakin pada sesuatu, dia pasti berusaha keras melakukannya, meski berisiko,” jelasnya. Pada periode akhir November hingga awal Desember, kesehatan wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia 2007 itu memang sedang drop. Wajahnya tampak sayu dan pucat. Suaranya pun serak, bahkan sangat serak. Untuk bersuara agak keras saja, dia perlu berdehem berkali-kali. Tonny menuturkan, sejak awal memangku jabatan publik, dirinya sekeluarga sudah paham betul semua konsekuensinya, termasuk menjadi sasaran hujatan pihak-pihak tertentu. Dia hanya tersenyum saat ditanya perasaannya waktu melihat banyaknya demonstran yang membakar foto istrinya. Terkait kabar bahwa dirinya dan Ani melarang anak-anak mereka menonton televisi, Tonny membantah. “Kami tidak pernah melarang anak-anak menonton TV, silakan saja. Bahkan, di rumah, kami langganan enam koran. Isinya kan macam-macam dan anak-anak juga biasa baca,” tegasnya. Saat ini, pasangan Tonny Sumartono dan Ani dikaruniai tiga anak, putra-putri. Yakni, Dewinta Illinia, 19, kini kuliah di Australia jurusan perdagangan dan hukum; Adwin Haryo Indrawan, 15, siswa SMA Al Azhar Jakarta; dan Luqman Indra Pambudi, 12, siswa SMP Lab School Jakarta. Namun, lanjut Tonny, dirinya dan istri sudah punya strategi untuk membentengi anak-anaknya dari isu-isu miring seputar skandal Century yang melibatkan Ani. Yakni, melakukan klarifikasi. “Kebiasaan di (keluarga) kami, kalau ada hal-hal yang menyangkut ibunya, ya langsung ditanyain. Jadi, tinggal dijelasin, ooo… ini nggak bener, yang bener ini lho… Jadi, anak-anak juga sudah paham dan tahu bahwa ibunya nggak salah,” ceritanya. Tonny pun menceritakan kejadian lucu saat anaknya yang SMA menunjukkan PR (pekerjaan rumah) yang soalnya tentang berapa dana talangan (bailout) yang dikeluarkan pemerintah dalam kasus Bank Century. “Jelas dia bisa jawab. Lha tiap hari baca dan diterangin ibunya,” ujarnya lantas tertawa. Saat ditanya perasaan anak-anak mereka saat berada di sekolah di tengah isu-isu miring yang menerpa ibunya, Tonny menyatakan baik-baik saja. Sebab, teman-teman anaknya juga sering main ke rumah mereka di kompleks perumahan pejabat negara Widya Chandra. “Jadi, kalau mereka main, ya sekalian dijelasin. Kan mereka nanya-nanya juga. Untungnya, kami cukup dekat. Sebab, saya masuk dalam perkumpulan orang tua murid di Al-Azhar dan Lab School,” ungkapnya. Lantas, bagaimana dengan pandangan keluarga besar Ani di Semarang terkait isu-isu miring yang banyak beredar” Menurut Tonny, keluarga besar istrinya di Semarang tetap memberi dukungan. “Mereka yakin kok bahwa Ani tidak berbuat seperti yang dituduhkan, apalagi korupsi. Sejak awal kenal dia dan keluarganya, saya tahu mereka sangat ketat dalam menjaga nilai-nilai. Ani termasuk yang paling tegas, bahkan kadang keras. Mungkin sifat itu diturunkan neneknya yang orang Madura,” jawabnya lantas tersenyum. Ani yang lahir di Tanjung Karang, 26 Agustus 1962, merupakan anak ke-7 di antara 10 bersaudara pasangan Prof Satmoko (alm, wafat 25 Desember 2006, pernah menjabat rektor IKIP PGRI Semarang) dan Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko (alm, wafat 11 Oktober 2008, pernah menjabat ketua Pascasarjana Universitas Negeri Semarang). Menurut Tonny, selain dukungan keluarga, Ani didukung banyak koleganya, baik dari kalangan pejabat maupun akademisi. “Ini tadi barusan ada SMS dari mantan rektor (Universitas) Atmajaya, minta disampaikan salam dan doa kepada Bu Ani,” ujarnya sambil memperlihatkan SMS di layar smartphone hitam merek Nokia miliknya. Dia mengungkapkan, di tengah berbagai isu seputar kasus Bank Century, dirinya sekeluarga juga makin sering meminta nasihat dari ustad. “Kami disarankan untuk makin mendekat pada Yang Kuasa. Juga tetap sabar menghadapi segala macam cobaan. Kami juga mendoakan agar pihak-pihak yang telah menyebarkan berita-berita kurang baik bisa terketuk hatinya dan sadar bahwa (perbuatan) itu tidak baik,” tuturnya penuh harap. (kum) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN